Keyword 1

Keyword 2

Tudang Sipulung, Demokrasi Lokal Masyarakat Bugis-Makassar

Tudang sipulung02

Tradisi duduk bersama Tudang Sipulung masih banyak dipraktekkan di masyarakat Bugis-Makassar. Warga datang menghadiri berbagai forum tudang sipulung ini mambahas apa saja yang terkait perkehidupan mereka. Ini merupakan salah satu bentuk demokrasi lokal dalam masyarakat Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan (Foto: Wahyu Chandra)

 

Dusun Mangempang, Desa Bonto Matinggi, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, adalah salah satu dari dusun dimana warga dari komunitas adat Karaeng Bulu bermukim. Sebagian besar warganya adalah petani sawah dan kebun, dimana berbagai ritual adat dan keagamaan yang mereka lakukan sangat dipengaruhi oleh budaya agraris.

Salah satu kebiasaan turun temurun yang kini masih kuat dipertahankan adalah budaya gotong royong dan kebersamaan. Ini misalnya tercermin dari masih rutinnya dilakukan pertemuan antar warga yang disebut ‘tudang sipulung’ yang secara harfiahnya berarti ‘duduk bersama’.

Menurut Kepala Dusun Mangempang, Amirullah Rull (44), budaya tudang sipulung  masih secara rutin dilakukan setiap tahunnya, yang biasanya dilakukan untuk membahas berbagai hal terkait dengan kondisi sawah yang mereka kelola. Semua masalah terkait pengelolaan lahan pertanian, mulai dari masa tanam hingga panen dibahas dalam pertemuan tersebut.

“Dalam setahun bisa dilakukan beberapa kali tudang sipulung, kalau masuk musim tanam, kalau ada hama dan penyakit dan sampai musim panen warga berkumpul membahasnya,” katanya ketia ditemui di rumah panggungnya di Dusun Damma, Selasa (26/8/2014).

Menurut Amirullah, berbagai persoalan yang dibahas dalam tudang sipulung biasanya terkait jenis dan varietas bibit yang mereka akan tanam, yang disesuaikan dengan kondisi musim saat itu. Kesalahan memilih jenis bibit dianggap bisa berdampak pada hasil panen mereka.

Hal lain yang dibahas adalah penentuan hari baik atau hari yang tepat untuk menanam, kondisi pengairan dan bagaimana distribusi air untuk setiap petani.

“Distribusi air ini harus dibahas secara jelas agar setiap orang bisa mendapat jatah air yang cukup. Kalau ini keliru bisa menimbulkan konflik bagi antar petani,” katanya.

Kebiasaan warga untuk melakukan pertemuan tudang sipulung diakui Amirullah sudah dilakukan warga di desanya dari dulu sebagai salah satu dari mekanisme adat Karaeng Bulu yang masih bertahan sampai sekarang. Pertemuan ini biasanya dipimpin oleh penanggung jawab pertanian dan pengairan dalam adat yang disebut pinati, jabatan yang juga diwariskan secara turun temurun.

Komunitas adat karaeng bulu sendiri tersebar di 4 desa yang berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Tompobulu masing-masing adalah Desa Bontomanai, Bontomatinggi, Bontomanurung dan Bontosumbu. Peninggalan adat yang masih tersisa hingga saat ini selain kuburan tua Karaeng bulu pertama, juga ditemukannya berbagai tempat ritual keagamaan di dalam hutan yang dikeramatkan, yang terletak di Bulu Lewang atau Gunung Lewang.

Di setiap dusun di desa ini terdapat pinati yang bertanggungjawab terhadap pengairan dan pertanian di dusun-masing. Pinati di Dusun Mangempang sendiri kini dijabat oleh seorang perempuan bernama Sanneng (35), yang diwarisi dari ayahnya yang sudah uzur, sekitar 10 tahun silam. Dalam adat sendiri tak ada ketentuan tentang jabatan pinati ini, apakah harus dijabat oleh laki-laki atau bisa untuk perempuan.

“Siapapun bisa menjabat pinati selama dianggap mampu dan tidak mesti laki-laki. Biasanya diambil dari keturunan pinati terdahulu karena mereka juga mewarisi peralatan-peralatan tertentu terkait jabatan pinati ini,” jelas Amirullah.

Setiap tudang sipulung mau dilakukan maka pinati inilah yang mengundang dan menjadi tuan rumah pertemuan. Proses ini disebut dibuntuli, yaitu undangan ke setiap rumah kordinator kelompok tani yang ada.

Kelompok tani di Desa Tompobulu dan sekitarnya, khususnya di desa-desa dimana pengaruh Karaeng Bulu masih kuat, tergolong unik. Perkumpulan ini bersifat non-formal dan lebih cocok disebut sebagai kelompok gotong royong.

Setiap kelompok biasanya terdiri dari 20-40 orang yang secara gotong-royong akan saling membantu dalam mengelola sawah dari masing-masing anggota.

“Setiap sawah akan dibajak dan ditanami secara bersama oleh anggota kelompok. Begitupun kalau panen,” jelas Sanneng, sang pinati.

Di Dusun Mangempang ini, jadwal tudang sipulung biasanya mengikuti jadwal musim tanam dan panen. Tudang sipulung terkait penentuan jadwal tanam biasanya dilakukan di awal Desember setiap tahunnya, sementara untuk tudang sipulung panen dilakukan pada akhir Oktober setiap tahunnya.

Pelaksanaan tudang sipulung ini biasanya cukup meriah karena dirangkaian dengan acara-acara lainnya. Pada setiap pelaksanaan tudang sipulung, konsumsi peserta tidak hanya disiapkan oleh tuan rumah, tapi juga sumbangan dati peserta yang hadir dan warga-warga kampung lainnya.

Sebelum pelaksanaan tudang sipulung biasanya diawali dengan tradisi membuat kue bersama yang disebut attumpi. Di rumah pinati, warga berkumpul membuat kue yang terbuat dari beras ketan yang disebut kue tumpi. Kue ini kemudian dibawa ke guru yang akan membacakan doa-doa.

“Ini dilakukan menjelang musim hujan yang juga berarti menjelang tudang sipulung untuk musim tanam,” jelas Sanneng.

Tradisi attumpi ini sendiri wajib dilakukan oleh setiap warga tanpa pengecualian. “Kalau attumpi sudah dilakukan, maka itu berarti sudah menjelang masuk musim tanam, dan itu juga berarti tudang sipulung akan segera dilakukan. Jadi tanpa diundang pun sebenarnya warga sudah tahu akan ada tudang sipulung kalau attumpi sudah dilakukan,” jelas Sanneng.

Proses mengundang warga untuk berkumpul mengikuti tudang sipulung biasanya setelah attumpi, pinati memerintahkan beberapa orang kepercayaannya untuk mengunjungi satu persatu ketua kelompok menyampaikan perihal dilaksanakannya tudang sipulung. Ketua kelompok inilah atau anggota lain yang ditunjuknya yang akan mengikuti tudang sipulung di rumah pinati ataupun rumah lain yang disepakati.

“Biasanya mereka yang diundang akan datang, meski tidak ada kewajiban atau paksaan,” tambah Sanneng.

Ketua kelompok atau perwakilan kelompok yang datang ini nantinya yang akan menyampaikan hasil dari kesepakatan tudang sipulung pada anggota lainnya.

Suasana pertemuan ini biasanya berlangsung dengan penuh kekeluargaan dan tanpa perdebatan yang berarti. “Semua masalah akan diselesaikan secara musyarawarah dan mufakat,” jelas Amirullah.

Proses tudang sipulung ini sendiri biasanya berlangsung secara santai dan sederhana. Hidangan dari tuan rumah dan yang dibawa sendiri oleh warga disajikan di tengah-tengah pelaksanaan tudang sipulung. Waktu pelaksanaan berlangsung dari siang hari sampai malam menjelang isya, atau bisa lebih lama beberapa jam.

“Tergantung pada apa yang sedang dibahas, atau jika ada hal-hal yang dipertantangkan,” tambah Amirullah.

Pertentangan-pertentangan yang biasa muncul lebih sering pada masalah pembagian atau distribusi air. Terkadang ada yang merasa mendapatkan suplai air yang lebih sedikit disbanding yang lain.

Meski ada pertentangan namun biasanya akan diselesaikan di saat tydang sipulung tersebut.

Kesepakatan dalam tudang sipulung ini meski tidak tertulis namun sifatnya wajib ditaati oleh warga komunitas. Bagi yang melanggar biasanya akan mendapatkan denda berupa pengurangan jatah air.

Pada tudang sipulung ini juga biasanya dibicarakan jadwal berburu babi hutan yang disebut ammunurang di sekitar hutan yang ada di daerah tersebut. Bagi warga setempat, babi hutan menjadi hama penganggu tanaman, merusak tanaman perkebunan mereka.

Ritual berburu babi ini biasanya dilakukan dengan cara memasang jarring yang disebut poro’. Babi hutan yang ditangkap kemudian dijual ataupun ditukar dengan berbagai macam peralatan bertani ataupun peralatan rumah tangga.

“Kalau ada jadwal berburu babi biasanya disampaikan ke pembeli di kota yang akan datang membeli atau menukarkannya dengan berbagai peralatan bertani dan rumah tangga warga,” jelas Amirullah.

Ritual berburu babi ini, sebagaimana tudang sipulung, biasanya dilaksanakan di dua waktu, yaitu menjelang musim tanam dan setelah panen.

Setelah pelaksanaan tudang sipulung ini, keesokan harinya biasanya dilanjutkan dengan kunjungan ke makam leluhur. Sebuah makam tua Karaeng Bulu sangat dikeramatkan warga. Di kuburan tua ini warga melakukan ritual keliling sebanyak tujuh kali disertai doa-doa kepada leluhur dan diiringi dengan suara gendang yang dipukul bertalu-talu, yang disebut saukeng.

Pelaksanaan tudang sipulung di masa panen dilaksanakan pada sekitar awal bulan Oktober setiap tahunnya. Prosesnya sama, meski berbeda pada subtansi yang dibicarakan.

“Selain membahas hasil panen, warga juga membicarakan kegiatan-kegiatan lain yang dilaksanakan setelah panen,” papar Amirullah.

Setelah masa panen memang selalu menjadi momentum yang selalu ditunggu warga karena biasanya disertai dengan ritual pesta panen yang dseibut appalili. Pada pesta adat ini berbagai acara dilakukan termasuk mappadendang, yaitu memukul-mukul lesung padi secara berirama oleh beberapa orang, laki-laki dan perempuan.

Pesta panen ini menjadi meriah karena yang hadir dalam perayaan bukan hanya dari desa setempat, tapi juga dari desa-desa lain. Apalagi ketika perayaan ini turut dihadiri oleh Bupati dan pejabat daerah setempat.

Kegiatan diakhiri dengan acara kalumpuang atau pencucian benda-benda pusaka adat. Acara kalumpuang ini hanya dilakukan khusus setelah panen, setelah proses tudang sipulung dilakukan.

Sebagai seorang pinati yang memasilitasi pelaksanaan tudang sipulung, Sanneng, merasakan manfaatnya, selain untuk melanjutkan tradisi, juga melahirkan rasa kebersamaan dan kegotong-royongan. Sanneng sendiri tidak merasakan jabatannya sebagai beban meski imbal balik atau gaji yang didapatkannya mengemban tugas berat itu hanyalah sawah seluas 1 are (10×10) yang hasilnya jauh dari memadai untuk kebutuhan keluarga.

Sebagai pinati, Sanneng tidak sekedar memasilitasi kepentingan warga terkait pengairan dan pertanian, namun juga memiliki tanggungjawab menjaga dan merawat berbagai benda pusaka peninggalan pinati-pinati sebelumnya.

Tugas sebagai pinati memang tidak semata bersifat hal-hal teknis. Keputusan pinati menentukan jadwal tanam yang tepat diperoleh setelah sejumlah ritual yang dilakukannya.

Selain untuk kepentingan penentuan waktu tanam dan panen, tudang sipulung ini juga kerap dilakukan di saat adanya rencana pesta perkawinan di daerah tersebut.

“Kalau ada yang ingin menikah biasanya juga diadakan tudang sipulung untuk membahas persiapan-persiapan adat. Begitulah di sini pak budaya gotong royong masih sangat kental termasuk dalam hal perayaan pesa perkawinan warga,” jelas Amirullah.

Hal lain terkait pelaksanaan tudang sipulung ini adalah tidak terkait dengan pemerintah desa setempat. “Mungkin karena dianggap acara adat sehingga kepala desa merasa tidak harus diundang atau hadir dalam pertemuan ini,” jelas Amirullah.

Penulis: Wahyu Chandra

Telah dimuat di: TEMPO Magazine