Keyword 1

Keyword 2

Tiga Mitos Asal Usul Masyarakat Kajang

Pemanfaatan Hutan (2)Komunitas Ammatoa Kajang adalah salah satu komunitas adat tertua di Sulsel yang keberadaannya masih dirasakan hingga saat ini. Mereka hidup dan menetap di kawasan yang disebut Kawasan Ammatoa Kajang yang terletak Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulsel. Mereka dikenal luas karena konsistensinya dalam menolak modernisasi dan tetap menjaga adat istiadat, termasuk menjaga hutan yang tetap lestari hingga saat ini.

Tak banyak yang tahu tentang asal-usul komunitas adat yang identik dengan pakaian hitam ini. Dari berbagai informasi yang ada, terangkum sedikitnya tiga mitos asal mula orang-orang Kajang, antara lain mitos Tomanurung, Pettung dan kedatangan Datu Manila dari Luwu.

Pertama, mitos tomanurung sebagai manusia pertama yang turun dari langit mengendarai seekor burung yang disebut koajang di puncak bukit berbentuk tempurung yang dikelilingi air.

Nama kajang konon berasal dari nama burung tersebut, tempat pendaratannya disebut Tanatoa (tanah mula-mula) sedangkan tomanurung bernama Ammatoa (orang terdahulu, orang yang tua).

Dikisahkan bahwa Ammatoa kemudian lenyap setelah meninggalkan keturunan. Dari keturunannya muncul pemimpin pada tiap generasi yang juga disebut Ammatoa. Mitos inilah yang melegitimasi terbelahnya masyarakat kajang ke dalam dua komunitas, yaitu komunitas to kamase-masea (orang sederhana) dan komunitas to kuasayya (orang yang berkuasa).

Komunitas to kamase-masea hidup dalam lingkungan spesifik dipimpin seorang Ammatoa yang berganti sesuai aturan mereka, berpakaian hitam, hidup bertani subsisten, mempraktekkan hidup sederhana dan seimbang lingkungan, menganut agama patuntung. Sementara komunitas to kuasayya adalah komunitas dari turunan yang memerintah secara formal, hidup berkecupan, dinamis mengikuti perkembangan dan menganut agama Islam.

Kedua, mitos pettung, mitos tentang munculnya seorang wanita dari dalam seruas bambu (pettung) bernama Batara Maloang.

Dari wanita pettung ini lahir: (1) Tau Kale Bajo (berbadan seperti labu) yang menjadi asal mula silsilah Karaeng Lembang (Desa Lembanna sekarang), (2) Tau Sapa Lilanna (yang bercabang lidahnya) sebagai pemula silsilah Karaeng Ilau (Desa Possi Tanah sekarang); (3) Tau Tentayya matanna (yang bermata juling) sebagai asal mula silisah Karaeng Laikang (Kelurahan Laikang sekarang); dan (4) Tau Kaditili Simbolenna (yang kecil sanggulnya), konon immortal.

Ketiga, mitos tentang kedatangan Datu Manila dari Luwu yang kawin dengan penduduk lokal bernama Galla Puto. Datu Manila datang dengan perahu berlayar emas bernama ‘kajang’. Nama perahu itulah kemudian dijadikan sebagai nama tempat mereka mendarat. Datu Manila datang bersama tiga utusan lain, yakni Datu Pilia yang berkunjung ke Bone, Datu Jonjongan ke Selayar, dan Datu Sito’bo ke Gowa.

Datu Manila konon ditawari emas dan kerbau sebagai lamaran, tetapi ia lebih suka kebun dan sawah. Dalam realitas mitos ini memberi spirit bahwa komunitas kajang merupakan turunan langsung dari Raja Luwu dan bahwa mereka identik dengan kehidupan pertanian sekaligus maritim.

Menurut Darmawan Salman, sosiolog dari Universitas Hasanuddin, dalam perkembangan masyarakat kajang, tiga mitos ini memberi pengaruh pada aspek tertentu kehidupan masyarakat.

Pertama, pada aspek kehidupan spiritual atau keagamaan, mitos tomanurung menjadi alat legitimiasi bertahannya komunitas to kamase-masea yang menganut animisme berhadapan dengan to kuasayya yang menganut Islam.

Kedua, pada aspek pemerintahan lokal, mitos pettung telah menjadi alat legitimasi dalam pembagian kekuasaan, sejak pembagian posisi Karaeng dan Sulleawatang pada zaman Belanda hingga ke pergiliran posisi camat pada masa orde baru.

Ketiga, pada aspek kehidupan ekonomi, mitos kedatangan Datu Manila dari Luwu telah melegitmasi urgensi aktivitas pertanian dan perikanan sebagai sumber mata pencaharian, meski kegiatan perikanan baru berkembang pesat dalam dua dekade terakhir. []

,