Keyword 1

Keyword 2

Ritual Rambu Solo dan Akhir Kisah si Belang

Si Belang, kerbau bertandan seharga semilyar yang tak ingin dipisahkan dari gembalanya. Kerbau bertandan atau tedong saleko sendiri dikenal dalam tradisi Toraja sebagai kerbau yang akan dikorbankan dalam ritual kematian Rambu Solo (Foto: Wahyu Chandra

Si Belang, kerbau bertandan seharga semilyar yang tak ingin dipisahkan dari gembalanya. Kerbau bertandan atau tedong saleko sendiri dikenal dalam tradisi Toraja sebagai kerbau yang akan dikorbankan dalam ritual kematian Rambu Solo (Foto: Wahyu Chandra

Prosesi Mantarima Tamu baru saja dimulai. Prosesi yang berarti penerimaan tamu ini adalah salah satu bagian dari ritual Rambu Solo, sebuah ritual kematian di Kabupaten Toraja, Sulawesi Selatan.

Pagi itu, Selasa (3/11/2015), di sudut lapangan Tongkonan di Madandan, Kabupaten Toraja, ada selebriti yang sedang dikerumuni banyak fans, yang silih berganti mengambil berusaha mengabadikan gambar bersamanya. Tapi tak semua orang diladeninya dengan baik. Sebagian besar malah ditampiknya dengan dengusan dan gelengan kepala, lalu memutar berusaha menghindar.

Namanya Si Belang. Seekor kerbau putih dengan corak hitam di beberapa bagian di tubuhnya. Bulu-bulunya seperti bercahaya diterpa sinar matahari. Di Toraja, kerbau jenis ini disebut Tedong Saleko, kerbau dengan kasta tertinggi.

Si Belang sepanjang hari menyita perhatian banyak orang. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Toraja hanya untuk melihat secara langsung dan menyentuh kerbau endemik Toraja ini.

Kerbau jenis ini memang akan selalu menjadi pusat perhatian, bukan hanya karena warnanya yang unik dan perannya dalam ritual Rambu Solo, tapi juga karena harganya yang selangit, yang bisa mencapai miliaran rupiah. Si Belang sendiri konon pernah ditawar hingga Rp 1,2 miliar.

“Pernah memang ada yang tawar. Saya tak tahu pasti harganya, tapi kata bapak Yandri pengembalanya memang pernah ditawar sekitar 1 miliaran lah,” ungkap Rukka Sombolinggi’, pemilik si Belang. Ia adalah salah satu putri dari Laso’ Sombolinggi’, yang sedang diritualkan hari itu.

Sebagai kerbau ritual, Si Belang diberi perhatian khusus oleh pemiliknya. Ia punya pengasuh atau pakkampi bernama Yandri. Setiap hari si Belang dimandikan di sungai dan diberi makanan dari rumput terbaik. Si Belang memang sangat selektif memilih makanannya.

“Ia hanya mau makan rumput yang segar,” ungkap Rukka sambil tertawa kecil.

Karena pengasuhan yang lama dan intens, Si Belang menjadi sangat manja dan hanya ingin dekat dengan pengasuhnya. Keberadaan orang lain di sekitarnya membuatnya tak nyaman dan bahkan bisa mengamuk.

“Cuma bapak Yandri dan anak-anaknya yang bisa dekat. Sepertinya juga ia mulai suka sama saya, cuma saya saja yang tidak berani terlalu dekat,” ungkap Rukka.

Kedekatan si Belang dengan gembalanya kadang menjadi masalah tersendiri. Ia hanya mau dimandikan, dirapikan bulu-blunya dan diberi makan oleh gembalanya. Dan ini menjadi-jadi semenjak ia dipindahkan dari kandang ke lokasi Rambu Solo.

“Selama Si Belang dibawa ke tempat ini sekitar sebulan lalu penjagaannya semakin intens. Bapak Yandri terpaksa harus ikut tidur dekat kandang, karena ia akan mengamuk kalau ditinggal,” ujar Rukka.

Hal yang sama juga ternyata dirasakan oleh Yandri. Tujuh tahun menjaga dan memelihara si Belang, membuat Yandri merasa si Belang sudah menjadi bagian dari dirinya. Menjelang penyembelihannya, ia merasa sangat tertekan dan diliputi kesedihan.

“Bapak Yandri ini sudah minta dipesankan ambulance, takut pingsan melihat si Belang disembelih,” tambah Rukka.

Di masyarakat Toraja sendiri, pekerjaan pengembala kerbau dianggap sebagai pekerjaan khusus, sehingga mereka pun mendapatkan perlakuan khusus dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kalau ada gotong royong misalnya, mereka itu boleh datang terlambat dan pulang cepat karena memang pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan lama.”

Mengurus kerbau juga membutuhkan pengetahuan, ketekunan dan kesabaran.

“Seorang pengembala kerbau itu hidupnya tergantung pada kerbaunya karena seluruh hidupnya akan dicurahkan kerbau yang digembalakannya. Hampir tak ada waktu untuk mengerjakan pekerjaan lain.”

Si Belang sendiri kini diperkirakan telah berusia 20 tahun. Pertama kali dimiliki keluarga Sombolinggi sekitar tujuh tahun silam. Ketika ibunya meninggal, Sombolinggi’ menyuruh anak-anaknya mencari kerbau tanda, atau kerbau dengan ciri khas tersendiri, misalnya memiliki warna putih dengan corak hitam di tubuhnya, atau karena tanduknya yang menukik ke bawah (Kerbau Sokko).

Dalam ritual Rambu Solo ini, sejumlah kerabat membentuk lingkaran saling berpegangan tangan menyayikan lagu kesedihan, yang disebut Ma’badong. (Foto: Wahyu Chandra)

Dalam ritual Rambu Solo ini, sejumlah kerabat membentuk lingkaran saling berpegangan tangan menyayikan lagu kesedihan, yang disebut Ma’badong. (Foto: Wahyu Chandra)

Maka berpencarlah seluruh anak-anak Sombolinggi’ ke pelosok kampung mencari kerbau tersebut.

Romba Sombolinggi’, anak lain dari Sombolinggi, ternyata kemudian mendapati kerbau tersebut di rumah salah seorang temannya.

“Kakak saya menawar Rp 60 juta dan ternyata diiyakan karena mungkin dianggap bercanda saja. Dua minggu kemudian kakak datang bawa uang dan dia malah kaget sampai hampir semaput. Tapi karena sudah terlanjur janji orang pun melepas dengan berat hati. Sampai sekarang ia seperti masih tak ikhlas melepas si Belang,” ungkap Rukka.

Si Belang sendiri ternyata telah dua kali akan disembelih di acara Rambu Solo, tapi selalu batal di saat-saat terakhir. Dalam aturan Rambu Solo, memang dimungkinkan kerbau tidak disembelih, tapi tetap harus disumbangkan ke gereja atau masjid.

Mengapa Tedong Saleko mahal?

Menurut Rukka, selain karena perannya dalam ritual Rambu Solo, sebagai kerbau tanda, kerbau ini memang sangat unik dan sulit ditemukan.

“Kalau kita kawinkan dengan sesama Tedong Saleko atau dari jenis lain belum tentu anaknya akan sama.”

Proses pembiakan Tedong Saleko ini relatif susah karena masa birahi betina yang sulit diketahui.

Ritual Rambu Solo

Si Belang sendiri merupakan kerbau yang sedianya akan disembelih dalam ritual Rambo Solo dari Laso’ Sombolinggi, salah seorang bangsawan tertinggi di Tana Toraja. Semasanya hidupnya ia sempat menjabat sebagai Ketua Dewan Aliansi masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulsel. Posisi yang ditinggalkannya itu kemudian dijabat istrinya, Den Upa Rombelayuk.

Dalam kepercayaan agama Aluk Todolo, Rambu Solo adalah ritual untuk mengantar arwah ke peristirahatan terakhirnya. Diyakini, sebelum diupacarakan dalam Rambu Solo, maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sakit. Ia tetap dibaringkan di tempat tidurnya. Setiap hari tetap disiapkan makanan, minuman, bacaan dan hal-hal lain yang menjadi kebiasaan ketika hidup. Termasuk tontontan TV favoritnya.

Dalam Rambu Solo, puluhan hingga ribuan kerbau dan babi dikorbankan, yang diyakini akan menemani arwah orang yang meninggal menuju puya (surga). Jumlah kerbau yang dikorbankan bervariasi, tergantung pada derajad kebangsawanannya.

Patung Laso’ Sombolinggi, yang terbuat dari kayu. Selama belum diritualkan dalam Rambu Solo, orang yang meninggal belum dianggap sepenuhnya meninggal, namun hanya dianggap sakit. Ritual Rambu Solo ini adalah prosesi mengantaran arwah yang meninggal menuju surga (puya), dengan hantaran puluhan hingga ribuan kerbau. Foto: Wahyu Chandra

Patung Laso’ Sombolinggi, yang terbuat dari kayu. Selama belum diritualkan dalam Rambu Solo, orang yang meninggal belum dianggap sepenuhnya meninggal, namun hanya dianggap sakit. Ritual Rambu Solo ini adalah prosesi mengantaran arwah yang meninggal menuju surga (puya), dengan hantaran puluhan hingga ribuan kerbau. Foto: Wahyu Chandra

Selain Tedong Saleko, jenis kerbau lain yang harus disiapkan dalam ritual Rambu Solo adalah kerbau hitam yang disebut Tandi Rapasan, yang berarti pemimpin rombongan.

“Kerbau ini seperti Tut Wuri Handayani, ia memimpin kerbau lain dari belakang, menghalau dan mengarahkan kerbau-kerbau lain agar tetap di jalurnya dan tidak ada yang tersesat dalam perjalanan menuju puya.”

Kerbau Tandi Rapasan harus sudah dewasa, dengan tanduk dan badan yang bagus, serta ada tanda khusus di dua sisi badannya. Tanda itu disebut Sulo Bongi, yang berarti obor di malam hari. Tanpa tanda itu, kerbau tak bisa dijadikan Tandi Rapasan, karena dikhawatirkan malah tersesat sebelum mencapai tujuan.

Pada acara Rambu Solo mengantar Sombolinggi ini, kerbau yang menjadi Tandi Rapasan diberi nama si Ganteng, karena memiliki tubuh yang sempurna dan ekor yang panjang sampai.

“Adik saya yang memberi nama itu,” ujar Rukka.

Lalu bagaimana nasib si Belang?

Si Belang ternyata bernasib sama dengan dua kali Rambu Solo sebelumnya. Ia lolos dari parang tajam sang penjagal. Konon itu hasil rembuk adat yang menyepakati ia cukup disumbangkan ke gereja. Dan Yandri pun tak perlu diangkut ambulance ke rumah sakit.

Penulis: Wahyu Chandra (wahyuch@outlook.com)

Sumber: mongabay.co.id

 

,