Menjaga Hutan, Melestarikan Adat Istiadat Ammatoa Kajang

DSC (19)_resize

Menuju Kawasan Ammatoa Kajang: Perjalanan ke Masa Lalu

Siang itu, matahari berada di atas ubun kepala, namun udara terasa sejuk, di antara pohon-pohon yang rindang. Kami berjalan memasuki kawasan adat Ammatoa Kajang dengan sedikit terengah, karena jalan sedikit mendaki dan berbatuan tak beraspal. Sesekali kami bertemu dengan warga yang berjalan sangat cepat dan tak beralas kaki. Mereka membalas senyum kami sejenak sebelum berlalu dengan tergesa, tak perduli berapa banyak beban yang mereka bawa. Angin mendesir sepoi-sepoi, diiringi suara burung dan suara gesekan daun dan ranting di pepohonan yang tinggi dan berumur tua.

Di pertengahan jalan menuju rumah Ammatoa, pemimpin adat tertinggi, terdapat sebuah pohon besar yang sudah berumur ratusan tahun. Air-air mengalir dari sela-sela akarnya, menjadi sumber utama bagi sumur air tua yang berada di tempat itu. Sumur itu adalah tempat aktivitas utama warga, dimana mereka mengambil air untuk konsumsi, mandi ataupun mencuci pakaian. Sekitar empat orang berada di tempat itu, yang sedang mandi ataupun mencuci pakaian.

Nursida, salah seorang warga komunitas ini, yang sebagian besar waktunya kini berada di luar kawasan dan sempat menempuh pendidikan di Institut Kesenian Makassar (IKM), telah sebelumnya mengingatkan kami untuk berpakaian hitam-hitam. Kini ia menyarankan kami untuk membasuh muka dari air yang berasal dari pancuran air di dekat pohon itu.

“Orang yang pertama kali datang ke Kajang harus membasuh muka dulu di sumur ini” katanya. Di tempat itu, selain aktivitas warga komunitas terdapat juga beberapa ekor kuda yang sedang minum dan sepertinya baru selesai dimandikan oleh pemiliknya.

Beberapa saat kemudian kami sudah berada di depan rumah Ammatoa. Rumah panggung sederhana yang pencahayaan di dalam rumah mengandalkan cahaya matahari dari sela-sela jendela dan pintu yang terbuka lebar. Di kawasan ini, tak ada listrik dan peralatan modern lainnya.

Di depan halaman rumah Ammatoa, kami harus menanggalkan sepatu dan sandal yang kami gunakan. Itu adalah adalah batas penggunaan alas kaki. Dulunya, penggunaan alas kaki terlarang mulai dari pintu masuk kawasan, termasuk bagi pihak luar atau tamu. Kini aturan ini agak longgar. Meski demikian, warga setempat masih tetap tak mengenakan alas kaki ketika berada dalam kawasan. Nursida yang menemani kami sepanjang jalan sudah menanggalkan alas kakinya.

Di dalam rumah, kami diterima ramah oleh istri Ammatoa yang akrab dipanggil Ombo. Ia mempersilahkan kami duduk dan menghadap ke Galla Puto, sang juru bicara komunitas. Galla Puto, lelaki setengah baya berkulit hitam legam, dengan ekspresi wajah yang dingin dan tampak sangat beribawa. Dengan kepala sedikit mendongak ia mempersilahkan kami duduk bersila. Bicaranya sedikit dan seperlunya. Ia hanya akan melayani percakapan dalam bahasa Konjo, bahasa asli setempat. Untunglah ada Nursida yang menemani dan menjadi penerjamah percakapan kami.

Percakapan dengan Galla Puto bukanlah hal yang mudah. Selain karena bahasa yang digunakan tidak kami fahami, bicaranya yang singkat dan menjawab seperlunya membuat kami mengubah strategi pertanyaan. Semua pertanyaan yang kami sangat penting kini harus ditanyakan satu persatu. Selain itu, ada kesan kehati-hatian dalam menjawab semua pertanyaan kami.

Selang setengah jam kemudian Ammatoa keluar dari kamar dan bergabung dengan kami. Berbeda dengan Galla Puto, tubuh Ammatoa agak gempal. Berpakaian kemeja dan sarung hitam ia menemui kami. Wajahnya berseri-seri menyambut kami. Ia baru saja istirahat, jelas Ombo, istrinya, sebelumnya.

Ammatoa sebenarya adalah sosok yang sukar ditemui. Tidak semua tamu berkesempatan bertemu dengannya. Sebagian besarnya hanya ditemui oleh Galla Puto. Nursida bercerita pernah suatu ketika seorang professor peneliti yang ngotot bertemu Ammatoa harus meratap dan memohon, dan itupun ia harus menunggu hingga Ammatoa benar-benar bersedia menemui.

Kehati-hatian Ammatoa menerima tamu cukup beralasan. Selama ini, sangat banyak informasi yang beredar tentang komunitas ini yang dinilai keliru dan kesalahan dalam mempersepsikan pernyataan-pernyataan Ammatoa. Banyak peneliti yang berkesimpulan hanya berdasar informasi yang sedikit dan simpang siur. Belum lagi dengan adanya tamu-tamu berkunjung dengan niat yang salah.

Perbincangan dengan Ammatoa adalah hal yang mengasyikkan, seperti sebuah perjalanan ke masa lalu. Gaya bicaranya yang ekspresif, sangat bersemangat, membuat kami lebih rileks dan turut bersemangat. Jauh dari kesan sacral seperti yang digambarkan selama ini. Pengetahuannya tentang kejadian di luar kawasan pun cukup luas.

Ia juga banyak bercerita tentang kearifan masyarakat setempat dalam mengelola dan menjaga hutan. Diakui bahwa setiap tindakan-tindakan, laku dan perkataannya akan senantiasa merujuk pada pesan leluhur, yang kerap disebut pasang ri kajang. Pasang ini telah diwariskan secara lisan turun temurun dari Ammatoa pertama yang disebut Tomanurung hingga Ammatoa yang sekarang. Ammatoa sendiri kerap menyebut Tomanurung ini dengan sebutan Nabi. Ia menyebut bahwa setiap waktu dalam kehidupan ini adalah zikir yang tak pernah terputus.

DSC (198)_resize

Bagi masyarakat Kajang, Ammatoa juga dikenal dengan nama “Bohe’ Amma”. Dalam bahasa Konjo, “Bohe” berarti tua atau tertua atau dituakan (terpandang, didengarkan). Sedangkan “Amma” berarti ayah atau bapak (laki-laki, sudah berkeluarga). Sehingga dapat diartikan bahwa Bohe’ Amma adalah kepala adat yang dapat membina dan mengarahkan masyarakat adat ke arah kebenaran, sesuai dengan kepercayaan dan aturan-aturan adat itu sendiri.

Struktur kelembagaan adat Ammatoa Kajang disebut Pangngadakkang atau struktur adat. Dalam struktur kelembagaan adat, mengenai peran dan fungsi lembaga adat bersumber dari pasang ri kajang. Pasang ri kajang menuturkan bahwa : Ammatoa mana’ ada’ (Ammatoa melahirkan Adat) dan Ammatoa mana’ Karaeng (Ammatoa melahirkan karaeng),

Dalam susunanan kelembagaan Adat Ammatoa Kajang, Ammatoa ditempatkan sebagai puncak pimpinan dalam adat dan pemerintahan, yang dibawahnya ada yang disebut Anrong yang terdiri dari dua pejabat, yakni Anrong ta ri Pangi dan Anrong ta ri Bongkina. Sosok Ammatoa oleh masyarakatnya sangat disakralkan, sampai-sampai tidak boleh diambil gambarnya serta dipublikasikan, hal tersebut sudah menjadi pantangan dan ketentuan adat.

Kearifan lokal “Bohe’ Amma” sebagai kepala adat, terlihat pada cara mengarahkan, membina, memutuskan dan memberi kebijakan. Kearifan lokal ini dipegang teguh oleh masyarakatnya dan apabila terjadi penyimpangan di dalamnya, maka akan diberi sanksi sesuai aturan adat yang berlaku.

Cukup lama kami berbincang hingga Nursida yang menemani kami sempat terkejut. “Ini adalah perbincangan terlama yang pernah dilakukan Ammatoa dengan tamu yang datang,” katanya.

Perbincangan dengan Ammatoa, Galla Puto, yang kemudian dilanjutkan diskusi dengan Mansyur Embas, warga Kajang yang kini tinggal di luar kawasan, memberikan banyak perspektif yang baru tentang Kajang. Ini sekaligus menegaskan ataupun membantah berbagai informasi yang selama ini telah beredar di masyarakat tentang komunitas.

Lokasi dan Masyarakat Adat Ammatoa Kajang

Komunitas Ammatoa Kajang sendiri adalah salah satu komunitas adat tertua di Sulsel yang keberadaannya masih dirasakan hingga saat ini. Mereka hidup dan menetap di kawasan yang disebut Kawasan Ammatoa Kajang yang terletak Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulsel. Mereka dikenal luas karena konsistensinya dalam menolak modernisasi dan tetap menjaga adat istiadat, termasuk menjaga hutan yang tetap lestari hingga saat ini.

Secara geografis Desa Tana Toa ini terletak antara 5o-6oLS dan 120oBT dengan posisi serong barat laut tenggara, dengan luas wilayah 7,1 Km2. Desa Toa sendiri terbagi menjadi 8 dusun, antara lain Dusun Sobbu, Dusun Benteng, Dusun Tombolo, Dusun Lurayya, Dusun Balambina, Dusun Pangi, Dusun Jannaya dan Dusun Balagana. Desa Toa berpenduduk 4.024 orang, yang terdiri dari 1.882 laki- laki dan 2.142 orang perempuan, dengan 957 Kepala Keluarga.

Peta Desa Tanah Towa

Batas wilayah administrative Desa Tana Toa antara lain, sebelah utara berbatasan dengan Desa Batunilamung, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Bontobaji, sebelah barat berbatasan dengan Desa Pattiroang dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Malleleng.

Desa Tana Toa dibatasi oleh empat sungai yang merupakan batas alam, yaitu sungai Limba di bagian timur, sungai Doro di bagian barat, Sungai Tuli di bagian utara dan Sungai Sangkala di bagian selatan. Keempat sungai inilah yang dijadikan pagar (emba) pembatas kawasan ilalang embaya atau dalam pagar, dengan Ipantarang Embaya atau di luar pagar.

Kajang Luar yang hidup di sekitar kawasan dan hutan, meski berada di luar kawasan, masih memiliki ketaatan yang besar terhadap sejumlah aturan dan ritual adat Kajang. Hampir semua ritual adat ataupun tabu yang ada di Kajang masih sangat ditaati, tidak hanya bagi Kajang Dalam namun juga bagi Kajang Luar. Dalam hal ini, pengaruh Ammatoa sebagai pemimpin ritual tertinggi masih sangat terasa dalam segala bentuk kehidupan warga.

Dilihat dari sejarah, keberadaan kawasan adat Ammatoa Kajang sebenarnya tidak sebatas pada wilayah Desa Tana Toa semata. Ini bisa dibuktikan dengan adanya warga masyarakat yang berpakaian hitam yang menyebar dalam apa yang disebut Sulapa Appa atau segi empat batas wilayah adat. Batas tersebut antara lain melintasi wilayah Batu nilamung, Batu Kincing, Tana Illi, Tukasi, Batu Lapisi, Bukia, Pallangisang, Tanuntung, Pulau Sembilan, Laha Laha, Tallu Limpoa dan Rarang Ejayya. Jika dilihat secara administrative pemerintahan kecamatan, maka wilayah-wilayah yang diebutkan di atas berada di di tiga kecamatan antara lain, Kecamatan Kajang yang meliputi desa Tana Toa dan ibu kota kecamatan Kajang/Kajang kassi, dan desa Bonto Biraeng, Kecamatan Bulukumpa meliputi desa Jo’jolo, desa Bonto Mangiring, dan Kecamatan Ujung Loe meliputi Desa Tammato dan Desa Palangisang.

Secara etnitas, Suku Ammatoa Kajang ini berbeda dengan Suku Bugis ataupun Makassar, meski pengaruh Makassar masih sedikit terasa dalam hal bahasa. Mereka umumnya dikenal sebagai etnitas Konjo, yang pembedaannya terletak dalam hal bahasa. Konjo sendiri memiliki posisi yang unik dalam etnitas di Sulsel. Penyebarannya terbagi dua, yaitu Konjo yang hidup di daerah daratan dan pegunungan dan pesisir.

Masyarakat konjo pesisir adalah masyarakat yang berdiam di Bulukumba Timur (Bontobahari, Bontotiro, Herlang dan Kajang). Masyarakat Konjo pegunungan mencakup Desa Parigi ke timur Kabupaten Gowa, sebelah barat Sinjai, bagian timur dan timur laut Kabupaten Maros (sekitar Camba), perbatasan selatan kabupaten Bone, dan daerah pegunungan utara Kabupaten Bantaeng. Kata ‘Konjo’ bermakna kata tunjuk yaitu ‘orang-orang di sana’. Konon istilah Konjo ini merujuk pada julukan yang diberikan orang Bugis atau orang Bulukumba Barat terhadap orang-orang Bulukumba Timur dalam menunjuk sesuatu selalu mengatakan ‘konjo’ (di situ, di sana, ke situ, ke sana). Inilah yang membuat orang-orang Bulukumba Timur selalu melihat diri mereka dengan orang Makassar dan Bugis. Pada masyarakat Kajang sendiri dialek Konjo bermakna lebih dalam, karena pasang ri kajang sebagai tuntunan hidup masyarakat menggunakan bahasa Konjo.

Kehidupan ekonomi di Kajang masih sangat tergantung ada sektor pertanian, dimana sebagian besar warga adalah petani subsisten, yang sebagian besar hasil pertanian mereka digunakan untuk sekedar memenuhi kehidupan sehari-hari dan juga kepentingan ritual adat keagamaan. Hampir semua rumah di Kajang menjadikan rumah sebagai lumbun padi ataupun jagung, yang disimpan di atas plafon rumah yang disebut para. Tanaman padi sendiri berada di luar kawasan, sementara tanaman jagung, cengkeh, kelapa, pisang dan tanaman umbi-umbian masih banyak ditemukan di dalam kawasan, di sekitar pinggiran hutan yang dikeramatkan.

Masyarakat kajang juga dikenal sebagai petani enau, dimana hasilnya kemudian menjadi bahan baku pembuatan gula merah. Pada waktu-waktu tertentu tuak dari tanaman enau ini dijadikan sebagai minuman utama dalam setiap ritual yang mereka lakukan.

Tidak hanya di sektor pertanian, masyarakat Kajang umumnya memiliki hewan ternak, antara lain yang banyak ditemukan adalah ayam, itik, sapi, kerbau dan kuda. Hampir seluruh keluarga memiliki kuda, yang biasa digunakan sebaga alat transportasi local mereka.

Tabel Jenis dan Jumlah Ternak di Desa Pao, Kecamatan Kajang, Bulukumba

Jenis Ternak Jumlah
Ayam Kampung 5.869
Itik 176
Kambing 27
Sapi 983
Kuda 515
Kerbau 276

Sumber: Data Potensi Desa Pao, 2014

Menurut Nursida, masyarakat adat Ammatoa Kajang ini, khususnya perempuan, dikenal sebagai penenun yang handal, dimana mereka menghasilkan kain tenun hitam yang disebut tope’ le’leng atau kain sarung hitam khas Kajang. Hasil tenunan dengan kualitas tinggi dan sepenuhnya menggunakan bahan alami dari sekitar hutan. Hasil tenun mereka, dulunya menjadi supplier bagi kebutuhan pakaian warga, yaitu untuk sarung, baju dan passappu (topi). Kini hasil tenun mereka kadang dijual juga kepada pihak luar yang ingin memilikinya. Mereka ahli dalam menganyam daun pandan menjadi tikar atau peralatan lainnya.

Luas kawasan Tana Toa yang dikeramatkan, dimana hutan adat Kajang berada, sendiri kini masih menjadi kontraversi. Pemerintah Daerah Bulukumba, berdasarkan SK No.504/kpts-II/1997 menetapkan luas kawasan seluas 331,17 hektar, dengan rincian yaitu, Tana Toa I seluas 310,59 ha, Tana Toa II seluas 6 ha, Tana Toa III seluas 12,58 ha dan Tana Toa IV seluas ha. Pihak Ammatoa sendiri memiliki klaim yang berbeda, yaitu seluas 374 hektar.

Hutan di Kawasan Ammatoa Kajang dapat dikategorikan sebagai hutan tropis. Menurut Galla Puto, juru bicara komunitas, I dalam kawasan hutan Kajang terdapat sejumlah tanaman khas yang tumbuh di hutan ini antara lain kayu nannasa (bitti), uhe (rotan), erasa (beringin), tokka, kaju katinting, pala-pala (pala hutan), ropisi, sattulu (ketapi), rao (zaitun), langsat, bilalang, taru, pakis, asa, oro’ (bamboo) dan anggrek. Untuk anggrek sendiri diperkirakan sejumlah spesies anggrek endemic yang masih ditemui hutan ini.

Jenis yang banyak ditemukan adalah anggrek bulan, dan anggrek macan. Sebenarnya masih banyak jenis tanaman khas yang bisa ditemui di hutan ini, namun Ammatoa tidak ingin jenis pohon itu disebutkan karena sangat disakralkan.

“Ada banyak jenis pohon yang terlarang untuk disebutkan namanya,” ujar Galla Puto.

Dari penuturan Ammatoa sendiri di dalam kawasan terdapat sejumlah jenis fauna yang sering ditemukan, antara lain soko (rusa), turi (monyet hitam), ular saha (Anakonda), lompo bangngi (Babi Hutan), manu kala (ayam hutan), burung jikki, kelelawar, cikong-cikong (gagak), kulu-kulu, bangau, alo, berbagai spesies ular, bukkuru (tekukur) dan lebah hutan. Di sungai yang terdapat di tengah hutan hidup berbagai jenis ikan, udang dan kepiting, yang hanya bisa diambil pada saat ritual adat tertentu.

Semua jenis flora dan fauna ini, khususnya yang berada di dalam kawasan hutan, terlarang bagi siapapun untuk mengambilnya dan warga pun takut untuk mengambil, bukan hanya karena adanya sanksi adat tapi karena diyakini memiliki pantangan tersendiri jika dilanggar, yang bisa berakhir dengan kesialan turun temurun dan bahkan terusir dari kampung. Selain jenis ikan, udang dan kepiting, hanya madu hutan yang bisa diambil warga, yang hanya untuk peruntukan ritual adat dan keagamaan.

Pemanfaatan hutan di komunitas ini pada dasarnya tidak secara langsung, yaitu pemanfaatan dari mata air untuk keperluan rumah tangga dan keperluan pertanian. Selain itu hutan lebih banyak digunakan untuk kepentingan ritual adat.

Bagi warga komunitas, hutan memang tidak dilihat sebagai sumber ekonomi atau penghidupan. Mereka sangat taat pada aturan untuk tidak mengambil jenis tanaman atau hewan apapun dari hutan. Pengecualian adalah sejumlah tanaman yang tumbuh di sekitar hutan (belum masuk kawasan hutan). Antara lain, tanaman taru, yang digunakan sebagai bahan untuk penghitam/pewarna benang tenun, serta tanaman enau atau inru sebagai bahan baku pembuatan tuak dan gula merah. Sejumlah pohon di dalam hutan perbatasan atau borong batasayya meski harus melalui persetujuan Ammatoa dan dengan aturan dan ritual tertentu.

Hutan bagi masyarakat Kajang juga bukanlah sebagai jasa ekosistem, wisata ataupun jasa penyedia karbon berbasis proyek. Meskipun, secara tersirat, sebagaimana diungkapkan oleh Ammatoa, bahwa hutan itu perlu dijaga sebagai upaya menjaga keseimbangan alam semesta. Sebagai sumber udara bersih.

Terkait arti penting hutan ini bagi kehidupan, dalam pasang ri kajang disebutkan bahwa Punna tenamo pokok-pokok, runtummi buttayya, naikmi je’neka (kalau tidak ada pepohonan, tanah akan longsor dan air akan naik (banjir). Terdapat juga pasang yang menyatakan: Naiyya, boronga antu parruna linoa (bahwa hutan itu adalah paru-paru bumi). Pasang lain menyebutkan bahwa: pokok-pokoka antu, raunna kiyo bosi, aka’na moli je’ne, yang berarti bahwa tiap pohon, daunya berfungsi memanggil hujan dan akarnya berfungsi menahan air.

Pasang lain menyebutkan: Punna ritabbang kajua ri boronga angngurangi bosi appatanrei tumbusu, anjo boronga angngontaki bosiya aka’na kajua appakalompo tambusu napau tau riolo. Apabila pokok yang ada dalam hutan atau ladang ditebang, hujan akan berkurang dan akhirnya mata air akan hilang (kering), sebab pokok-pokok yang ada mendatangkan hujan, seperti nasehat nenek moyang-leluhur kita.

Dalam masyarakat Kajang sendiri dikenal ritual yang disebut addingingang atau mendinginkan bumi. Ini adalah ritual bumi tahunan, yang biasanya dilakukan tiap akhir tahunan. Ritual ini dilakukan sebagai bentuk penghargaan kepada alam. Ratusan warga, baik dari dalam maupun luar kawasan, akan hadir dalam ritual ini dengan membawa berbagai macam makanan yang akan dikonsumsi sendiri setelah ritual. Dalam ritual ini, semua peralatan modern pun harus ditanggalkan. Peralatan makan dan minum harus menggunakan dari bahan anyaman daun enau dan tempurung kellapa. Baki yang terbuat dari bahan perunggu pun, ketika akan memasuki hutan harus ditanggalkan.

Ritual addingingang termasuk ritual terbesar yang dilakukan di komunitas ini dan biasanya diikuti pula oleh pejabat-pejabat local setempat dan bahkan dari tingkat provinsi. Dalam pelaksanaan ritual ini makanan-makanan tradisional disajikan dengan peralatan makan sederhana, seperti mangkok dari tempurung kelapa, daun pisang, baku (wadah makanan) dari daun enau yang dikeringkan. Segala peralatan modern tidak diperkenankan dalam upacara ini.

Pada pelaksanaan addingingang ini, biasanya juga diselingi berbagai atraksi tari-tarian dan sebuah ritual kuno yang disebut attunu panroli atau membakar linggis. Linggis di bakar di tengah lapangan hingga benar-benar panas dan berwarna merah. Konon, ritual ini digunakan untuk mengetahui kebersihan hati seseorang. Ketika sebuah perselisihan terjadi maka untuk memutuskan siapa yang berkata benar atau berkata bohong akan diketahui melalui attunu panroli ini.

“Orang yang hatinya bersih dan berkata benar maka tangannya tidak akan panas dan terbakar ketika memegang linggis panas ini, sebaliknya akan terasa panas jika yang memegangnya berkata dusta,” jelas Nursida.

Memahami pengelolaan hutan di Ammatoa memang hanya bisa dilihat dari makna budaya dan ritual. Secara turun temurun hutan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Kajang sendiri, sehingga eksistensi masyarakat Kajang hanya bisa bertahan selama hutan yang ada tetap terjaga dan lestari. Makna budaya dan spiritual ini bisa dilihat dari kenyataan bahwa hampir semua ritual penting di Kajang harus dilakukan di dalam hutan yang dikeramatkan, mulai dari proses kelahiran, perkawinan, hingga pada kematian.

Pemanfaatan Hutan (2)

Bagi masyarakat adat Ammatoa Kajang, hutan adalah tempat para leluhur mereka pertama kali menetap. Hutan dijaga keutuhannya dan dilestarikan karena hutan bernilai historis yang mengingatkan mereka akan asal usul dan kebesaran leluhur mereka di masa lalu.

Meski demikian, bukan berarti manusia tidak boleh memanfaatkannya. Menjaga kelestarian hutan merupakan satu bagian tak terpisahkan dengan pemenuhan kebutuhan akan sumberdaya hutan itu. Pemanfaatan hutan untuk ritual adat, kebuuhan ekonomi, membangun rumah, dan membuka kebun diperkenankan asal memenuhi aturan yang ditetapkan pasang dan harus seijin Ammatoa. Persetujuan Ammatoa didapat melalui permohonan yang disampaikan langsung kepada Ammatoa dan pengurus adat lainnya.

Menurut Mansyur Embas, salah seorang tokoh Kajang yang kini tinggal di luar kawasan, hutan menjadi sentra kehidupan masyarakat adat kajang dapat dilihat dari peranannya dalam prosesi pengangkatan Ammatoa. Ini adalah ritual yang paling sakral bagi masyarakat Ammatoa, yang hanya dilakukan setelah Ammatoa terdahulu mangkat dan sambil menunggu penggantinya. Setelah Ammatoa meninggal (a’linrung) maka ada waktu jeda selama tiga tahun sebelum dilantiknya Ammatoa baru. Setelah tiga tahun maka dimulailah ritual pencarian Ammatoa baru yang dilakukan oleh dua orang perempuan utama di masyarakat Kajang yang disebut Anrong, yaitu Anrongata ri Pangi dan Anrongta ri Bongkina. Mereka juga disebut Anrong Baku Toayya dan Anrong Bakuloloa. Anrong ini sendiri memiliki posisi yang unik dalam adat, karena mereka tidak berada di bawah Ammatoa, namun sejajar. Merekalah yang memimpin proses pengangkatan dan pelantikan Ammatoa. Vitalnya peran kedua peremuan ini karena peran mereka dalam mengurus seluruh peralatan adat. Untuk proses ini sendiri kedua Anrong ini akan melakukan sejumlah ritual di dalam hutan, yang prosesnya bisa berlangsung hingga 3 bulan lebih.

Terlepas dari makna budaya dan ritual ini, hutan bagi masyarakat Kajang sebenarnya memiliki peran vital dalam menjaga kelestarian air di kawasan ini. Dengan tetap terjaganya hutan, bahkan pada musim kemarau sekalipun suplai air tetap terjaga. Inilah yang kemudian menjamin produktiftas lahan pertanian yang mereka miliki. Tepat di tengah kawasan, sebuah sumur dijadkan sebagai sumber mata air warga. Mereka mandi dan mengambil air konsumsi di tempat ini. Selain sumur warga ini, di dalam hutan juga terdapat satu sumur lainnya, yang airnya hanya bisa digunakan pada saat upacara adat.

Merunut sejarah, upaya perlindungan hutan Kajang sebenarnya telah ada sejak lahirnya komunitas ini ratusan tahun silam. Ammatoa sendiri mengakui, dulunya kawasan Kajang membentang luas tidak hanya di Kabupaten Bulukumba, tapi membentang hampir seluruh Sulawesi bahkan hingga ke luar. Meski demikian, luasan hutan 374 hektar itu memang sudah seperti itu kondisinya sejak dahulu kala. Ketika wilayah pengaruh Ammatoa berkurang, kawasan hutan ini tetap terjaga. Bahkan ketika masa penjajahan, yang kemudian pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan, kawasan ini tetap dipertahankan. Dalam cengkraman penjajahan dan penguasaan DI/TII ini komunitas Kajang sempat mengalami tekanan yang cukup besar. Mereka dipaksa membayar upeti dari hasil pertanian, sementara ada kalanya pada waktu itu mereka mengalami masa panceklik.

Tekanan paling berat dirasakan komunitas ini ketika terjadinya pendudukan pemberontak DI/TII. Mereka tidak hanya dipaksa membayar pajak dari hasil pertanian, namun juga dipaksa menanggalkan keyakinan dan patuh pada ajaran Islam. Meski Ammatoa dan sebagian warga Kajang adalah Islam, namun pengaruh adat jauh lebih terasa dan memenuhi ruang lingkup kehidupan mereka. Pada masa inilah muncul sebuah kekuatan adat yang disebut pasukan Dompea, yang aktif melakukan perlawanan pada pasukan DI/II Kahar Muzakkar.

Komunitas ini sendiri sangat tertutup dengan dunia luar, khususnya terkait pengelolaan hutan. Sejumlah program penghijauan dan peremajaan hutan yang diajukan pemerintah tak pernah ditanggapi.

Alasannya sederhana. Menurut Ammatoa, ketika ada pihak luar yang melakukan penanaman maka pada akhirnya mereka akan mengklaim hutan iu sebagai milik mereka.

“Hutan Kajang tak membutuhkan bantuan dan dukungan dari luar, karena sudah terjaga dan lestari dengan sendirinya,” ujar Ammatoa.

Suatu waktu Ammatoa pernah diusulkan menerima penghargaan Kalpataru, namun ditolak karena piala Kalpataru yang terlihat terbuat dari emas, sementara bagi warga Kajang sendiri emas adalah symbol kemewahan, sesuatu yang mereka jauhi selama ini. Tidak hanya program lingkungan, berbagai bantuan-bantuan dalam bentuk uang pun tak pernah mereka mau terima.

Status Hukum dan Tata Kelola

Pemerintah sendiri telah menetapkan hutan Kajang sebagai hutan produksi terbatas. Dalam masyarakat Kajang dikenal istilah embaya, yang digunakan masyarakat Tana Toa untuk mendefinisikan keberadaan ekosistemnya dengan segala karakteristik khas yang mereka miliki.

kajang02

Ammatoa sendiri membagi hutan menjadi dua bagian yaitu: borong karamaka atau hutan yang dikeramatkan, merupakan hutan terlarang yang terletak di Dusun Benteng. Menurut pasang, hutan ini terlarang atau kasimpalli untuk dimasuki, diukur, maupun dicatat luas arealnya. Selain itu, kasimpalli berarti larangan untuk menganggu flora dan fauna yang ada dalam hutan. Adanya larangan ini menunjukkan sikap melindung mereka terhadap borong karamaka karena adanya keyakinan bahwa hutan ini sebagai tempat kediaman leluhur (pammantanganna sikamma tau rioloanta), sebagai tempat melantik Ammatoa (appadongko’ laparuntu pa’nganro), serta aka’ kajunna appakalompo tumbusu raung kajuna angngonta bosi (akarnya memperbanyak air, daunnya mendatangkan hujan).

Borong karamaka sendiri dibagi menjadi tujuh, yaitu Borong Tode, Borong Naraka, Borong Karanjang, Borong Katintinga, Borong Sobbu, Borong Campaga Puang dan Borong Topalo.

Ada juga yang disebut borong battasaya atau hutan di perbatasan, yang terletak di perbatasan 3 desa, yaitu Desa Bonto Baji, Desa Pattiroang dan Desa Tana Toa. Di hutan ini warga komunitas dibolehkan mengambil kayu (menebang pohon) dengan syarat-syarat tertentu.

Bagi warga Kajang sendiri, baik borong karamaka ataupun borong batasayya memiliki nilai sakral yang sama, yaitu sebagai hutan keramat yang tak boleh terjamah oleh siapa pun.

Pemerintah daerah sendiri selama ini tak menutup mata dengan eksistensi hutan kajang dan tetap menyerahkan pengelolaan hutan kepada adat. Upaya perlindungan hutan Kajang sendiri dilakukan secara tidak langsung, namun dimasukkan dalam satu bagian dari Ranperda Perlindungan Masyarakat Adat Kajang, yang kini masih dalam proses penyusunan, yang inisiatifnya dilakukan sejak 2013 lalu.

Ide tentang Perda masyarakat Kajang ini telah lama digagas oleh Pemerintah Kabupaten Bulukumba, seperti diakui Kepala Dinas Kehutanan Bulukumba, Misbawati A Wawo.

“Ide ini sudah lama kami pikirkan karena menyadari pentingnya sebuah regulasi khusus terkait masyarakat Kajang,” ungkapnya.

Pada masa Bupati sebelumnya, Sukri Sappewali, pada tahun 2008, sebenarnya sudah ada upaya penyusunan Perda Adat Kajang. Prosesnya bahkan sudah dalam tahap akhir dan draft sudah ada, namun tanpa ada alasan yang jelas, upaya tersebut kandas di tengah jalan.

Upaya ini kemudian menemui momentum kembali seiring dengan adanya dukungan dari CIFOR dalam penyusunan Perda Kajang, yang semangat dan isinya berbeda dengan yang sebelumnya. Bupati Bulukumba sekarang, Zainuddin Hasan merespon baik rencana ini, yang bahkan menerbitkan SK Bupati tentang Pembentukan Tim Penyusun Perda pada Juli 2013 silam.

Upaya ini dalam prosesnya berjalan dinamis dan penuh dinamika, apalagi dengan keterlibatan AMAN, LSM Balang, dan dari tokoh dan masyarakat Kajang sendiri dalam proses tersebut.

Dari warga adat Kajang sendiri upaya perlindungan kawasan diatur dalam pasang ri Kajang. Dalam hal ini pasang menjadi acuan kepada warga, tidak hanya terkait pengelolaan hutan namun juga mencakup seluruh perikehidupan warga Kajang.

Diakui oleh Ammatoa, pelanggaran dalam pengelolaan hutan oleh warga Kajang Dalam sendiri sangat jarang terjadi. Ini terkait besarnya sanksi adat yang akan mereka terima ketika melanggar, belum lagi keyakinan adanya kekuatan gaib yang melindungi hutan itu dari gangguan pihak luar.

Menurut Galla Puto, hutan di Kajang pada dasarnya telah diselubungi dengan kekuatan gaib yang diistilahkan sebagai passau, atau telungkup gaib yang menaungi seluruh hutan. Para galla, yang tersebar di segala penjuru angin diakui turut menjaga hutan dari adanya penyusup. Terkait sanksi, ketika seseorang melanggar dan tidak mau membayar denda atas pelanggaran itu atau malah lari ke tempat lain, maka sanksi itu akan melekat pada seluruh keturunanya hingga tujuh turunan.

Diceritakan oleh Ammatoa, pernah ada seorang warga yang nekat memasuki hutan tanpa sepengetahuan Ammatoa dan mengabaikan aturan-aturan yang ada, namun orang ini kemudian berubah wujud menjadi seperti rusa yang bertanduk. Ia baru sembuh setelah diobati oleh Ammatoa.

Contoh pelanggaran paling parah pernah dilakukan oleh oknum Kepala Lingkungan, Kepala Desa dan Dinas Kehutanan Bulukumba, dimana mereka melakukan penebangan di kawasan yang diklaim Ammatoa masih merupakan wilayah hutan kajang, seluas 174 hektar. Alasannya, penebangan ini dilakukan karena dianggap sebagai hutan cadangan. Dari hasil rapat adat diputuskan pemberian sanksi berupa penanaman kembali atas hutan yang telah mereka tebang.

Pemberian denda adat di Kajang sebenarnya memiliki tingkatan-tingkatan tertentu. Konflik-konflik antar warga kadang terjadi, yang berakhir dengan saling mencela, sesuatu yang sangat dilarang di komunitas ini. Jika peristiwa pelanggaran ini terjadi, maka ada mekanisme denda adat yang dikenakan, dimana besarnya denda sesuai dengan besarnya kesalahan yang dilakukan. Denda tertinggi disebut poko’ ba’bala, yatu denda berupa uang senile 12 real, yang jika dirupiahkan sebesar kira-kira Rp 12 juta. Untuk kesalahan menengah dendanya disebut tangngah ba’bala (sanksi menengah), yaitu denda senilai 8 real atau Rp 8 juta. Sedangkan denda terendah disebut cappa ba’bala senilai 6 real atau Rp 6 juta. Jika sudah diputuskan secara adat maka denda ini wajib dibayarkan. Penolakan membayar denda tidak hanya berdampak pada diri pribadi seseorang, namun juga bagi seluruh keluarganya.

Perempuan sendiri memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat adat Kajang. Dua perempuan utama disebut Anrong. Ada juga sanro atau dukun yang berfungsi di setiap pemberkatan atau doa-doa di setap ritual. Ombo, sebutan bagi istri Ammatoa juga memiliki peran yang sangat besar, khususnya dalam mempersiapkan setiap kebutuhan ritual. Ada juga bagian logistik dan dapur yang disebut jannang. Seluruh perempuan ini sangat terlibat dalam setiap pengambilan keputusan Ammatoa.

Pemanfaatan Hutan

Hutan yang terjaga dan tetap lestari berdampak pada kelangsungan hidup warga. Ammatoa sendiri menilai bahwa dengan terjaganya hutan Kajang ini maka dampaknya akan dirasakan oleh seluruh umat manusia.

Pemanfaatan Hutan (1)

Secara ekonomi, dengan terjaganya hutan maka suplai air akan tetap terjaga. Dan itu akan berdampak pada kontinuitas produksi pangan mereka. Hutan yang terjaga akan menjauhkan mereka dari bencana kekeringan, karena dengan tetap terjaganya hutan, maka pada musim kemarau sekalipun suplai air tak pernah berubah.

Ammatoa sendiri secara filosofi meyakini adanya keterkaitan antara hutan yang terjaga dengan kondisi musim. Batang-batang pohon memiliki peran dalam memanggil hujan, akar-akar pohon menjaga air untuk tetap mengalir dari sela-selanya. Tanaman-tanaman yang tetap terjaga, anggrek-anggrek yang tak pernah tersentuh menjadi nutrisi dan sumber hara bagi seluruh habitat yang ada dalam hutan. Ammatoa sendiri melarang pengambilan pohon-pohon yang sudah tumbang, karena kelak akan menjadi pupuk yang menjaga kesuburan tanah.

Ammatoa juga berkepentingan dalam menjaga hutan karena dengan hutan yang tetap terjaga, yang seluruh flora dan fauna dibiarkan tetap hidup bebas tak terganggu, maka ia akan tetap bisa membaca tanda-tanda dari alam. Bagi Ammatoa, ia mampu membaca peristiwa-peristiwa penting di masa yang akan datang melalui pesan-pesan yang disampaikan oleh alam. Burung-burung tak bisa dibunuh karena dari perilakunyalah akan bia diketahui perisitwa yang sedang atau akan terjadi. Ammatoa dan sebagian warga Kajang bahkan mengenali waktu dari bunyi-bunyian di sekitar mereka.

Kekuatan dan Ketahanan Inisiatif Perlindungan

Masyarakat adat Kajang Ammatoa memiliki ketaataan yang besar pada adat yang direftersentasekan pada figure Ammatoa sebagai penyampai pesan atau pasang. Pengaruh Ammatoa ini sangat dirasakan tidak hanya di Kajang Dalam tetapi juga di Kajang Luar. Ada sebuah contoh yang bisa menggambarkan hal ini.

Ammatoa selama ini dikenal sebagai pemimpin komunitas yang ortodoks dan menolak segala hal yang berbau modern atau pengaruh dari luar Kajang. Di dalam Kajang, hampir tak ada sedikit pun bisa dilihat adanya pengaruh modern. Sepanjang jalan di dalam kawasan adalah hasil pengerasan swadaya masyarakat. Tak boleh ada pengaspalan di dalam kawasan meski berbagai proyek pembangunan telah mencoba memasuki kawasan ini. Ammatoa juga sangat jarang keluar dalam kawasan. Bahkan tak semua tamu yang berkunjung ke rumah adat diterimanya secara langsung.

Ketika Ammatoa kemudian memutuskan keluar dari kawasan meski hanya sekedar berkunjung maka itu dianggap sebagai hal yang tak lazim. Pernah suatu ketika Ammatoa harus mengunjungi pesta perkawinan seorang tokoh Kajang yang tinggal di luar kawasan. Mendengar rencana kunjungan Ammatoa ini maka seluruh fasilitas modern di rumah yang akan dikunjungi, termasuk listrik, dinonaktifkan. Penerangan pun hanya menggunakan lilin. Peralatan radio, TV, dan sebagainya tak boleh dinyalakan. Dan semua tamu yang hadir dalam pesta itu menaati dan maklum dengan kondisi tersebut.

Cerita di atas adalah suatu contoh jelas betapa ketaatan masyarakat akan Ammatoa masih sangat besar. Meski demikian, penentangan terhadap aturan adat kadang terjadi. Upaya-upaya pihak luar untuk menggerus nilai-nilai adat kajang, atas nama pembangunan, masih kerap terjadi. Misalnya, adanya rencana pembangunan instalasi listrik di kawasan luar kajang yang masih sangat dekat dengan kawasan hutan. Upaya ini ditentang keras oleh Ammatoa dan hingga saat ini tiang-tiang listrik sudah berdiri meski tanpa kabel.

Kesulitan dan Tantangan

Upaya perlindungan hutan berbasis masyarakat adat di kawasan adat Kajang hingga saat ini masih sangat efektif dijalankan. Upaya ini tak begitu sulit dilakukan karena adanya mekanisme adat yang berlaku dan masih sangat kuatnya keyakinan masyarakat akan kekeramatan hutan Kajang.

Tantangan terbesar yang mungkin dihadapi adalah desakan dari luar, yang terkadang mencoba memaksakan adanya modernisasi kawasan dengan alasan pariwisata. Ammatoa sendiri selama ini tetap teguh pada penolakan atas berbagai bujuk rayu ini. Pertentangan terkadang terjadi ketika pemerintah daerah mencoba memaksakan kehendaknya melalui Kepala Desa Tana Toa yang terkadang tidak sejalan dengan pemikiran Ammatoa. Sebuah pembangunan replika rumah adat Kajang di luar kawasan sebagai contoh. Pembangunan rumah adat ini sejak awal sudah ditolak Ammatoa karena desain dan bahan yang digunakan jauh dari gambaran rumah adat yang sesungguhnya, termasuk jenis kayu yang digunakan. Masalah lain ketika rumah adat ini juga akan memasukkan listrik, sesuatu yang masih sangat ditentang oleh Ammatoa.

Terkait pengelolaan hutan, masalah dan tantangan ke depan memiliki potensi yang besar. Perbedaan klaim luas kawasan antara pemerintah dan Ammatoa sebagai bukti bahwa pemerintah belum sepenuhnya menghargai keberadaan aturan adat yang berlaku di kawasan adat Ammatoa. Apalagi selama ini selalu ada upaya-upaya penanaman dilakukan dalam kawasan, yang selalu ditentang oleh Ammatoa.

Pengaruh dari luar, baik secara langsung ataupun tidak pasti akan tetap dirasakan oleh komunitas Kajang ini. Apalagi migrasi warga dari dalam ke luar kawasan kadang terjadi dengan berbagai alasan, misalnya untuk mencari pekerjaan yang lebih baik ataupun alasan pendidikan. Pendidikan sendiri dulunya sangat ditolak di Kajang, meski kemudian hari hal ini dapat ditolerir. Sejumlah warga yang dulunya tinggal di alam kawasan kini banyak yang menempuh pendidikan tinggi di Makassar dan bahkan di Pulau Jawa.

Arus migrasi besar-besaran warga Kajang Dalam ke luar dari kawasan sebenarnya terjadi pada era tahun 1970-an. Terbatasnya lahan yang bisa diolah di dalam kawasan membuat sebagian warga mulai ke luar kawasan, meski tetap berada di wilayah pengaruh Ammatoa Kajang. Mereka kemudian membuka lahan untuk perkebunan dan persawahan, yang menyebar sepanjang wilayah Kajang hingga Tanete. Mereka pun mulai membangun kawasan pemukiman, meskipun tetap tidak memutuskan hubungan dengan identitas mereka sebagai warga Kajang Dalam. Masalah kemudian muncul ketika di era 1980-an munculnya perusahaan swasta, PT Lonsum, yang didukung pemerintah, melakukan pengkaplingan lahan, yang menyebabkan hilangnya sebagian lahan warga. Meski lahan mereka tergerus, sebagian besar warga masih bertahan di pemukiman mereka dengan menggarap sebagian kecil lahan yang masih tersisa.

Perubahan sosial yang terjadi di dalam kawasan, termasuk pada pola ekonomi dan konsumsi adalah hal yang tak terelakkan. Jika sebagan besar warga kajang dulunya adalah petani dan pekebun, maka perlahan kini ada yang keluar menjadi tenaga buruh di tempat lain. Pola konsumsi pun dalam beberapa dekade terakhir juga mengalami perubahan yang cukup menyolok. Ada waktu di masa lalu mereka hanya mengkonsumsi makanan dari sagu dan nasi jagung, yaitu ketika mereka menghadapi masa panceklik akibat tekanan dari penjajahan Belanda yang kemudian dilanjutkan dengan DI/TII. Kini warga Kajang mengkonsumsi nasi dari hasil sawah yang dipanen dua kali setahun. Jenis-jenis makanan produk modern juga mulai dikonsumsi, seperti mie-mie instan, yang kini banyak di luar kawasan.

Yang tak banyak berubah di Kajang dalam ini adalah aktivitas-aktvitas keseharian yang masih dibalut dengan kesederhanaan. Fasilitas mandi dan kakus mereka masih merupakan hal yang sama dari dulu. Sumber air masih tetap sangat tergantung pada sebuah sumber mata air yang terletak di tengah kawasan pemukiman. Cara berpakaian pun sebagian besar masih dalam kesederhanaan, dengan ciri khas pakaian warna hitam dan tak menggunakan alas kaki.

Partisipasi Politik

Terkait partisipasi politik warga Kajang, kini mengalami peningkatan yang cukup besar dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah warga keturunan Kajang bahkan kini ada yang duduk sebagai anggota DPRD di Kabupaten Bulukumba. Ammatoa sendiri, meski tertutup dari akses informasi modern, memiliki pengetahuan yang luas tentang kondisi yang terjadi di luar kawasan.

Partisipasi Politik

Terkait dengan dampak perubahan iklim terhadap komunitas adat Ammatoa Kajang, diakui Ammatoa tidak memiliki dampak yang berarti. Masa tanam dan panen di Kajang tak pernah berubah. Misalnya masa penaburan benih masih tetap dilakukan di bulan April, penanaman di bulan Mei, dan panen di bulan Juli. Panen pun tetap sama, yaitu dua kali setahun. Pola musim masih tetap sama, yang berbeda dengan daerah-daerah sekitarnya.

Upaya perlindungan hutan di kawasan Ammatoa Kajang memiliki momentum dengan adanya penyusunan Ranperda Perlindungan Masyarakat Ammatoa Kajang yang kini masih berproses.

,