Menengok Danau Mawang: Konservasi Air Berbasis Masyarakat di Kabupaten Gowa

mawang1

Air adalah sumber kehidupan, sehingga ketersediaan air yang cukup akan senantiasa menjadi kebutuhan utama bagi manusia di mana pun di bumi ini. Melalui airlah manusia akan mampu menumbuhkan beraneka macam tanaman guna memenuhi kebutuhan konsumsi keseharian.

Ketersediaan air bagi manusia ini umumnya dipenuhi oleh alam, namun tanpa campur tangan pengelolaan manusia dalam suatu kondisi akan menjadi suatu masalah yang tersendiri. Inilah kemudian yang mendasari perlunya upaya konservasi air demi ketersediaan air yang mencukupi kebutuhan manusia, khususnya di sektor pertanian.

Beragam cara konservasi ini dilakukan, mulai dari penyelamatan hutan sebagai penahan air hingga penyediaan penampungan atau area penampungan air dalam skala yang besar, yang diperkirakan bisa menjadi suplai kebutuhan air masyarakat dalam skala area tertentu. Penampungan atau area penampungan dan resapan air ini bisa sekedar rawa, cekdam ataupun danau yang bisa tercipta secara alami maupun dibuat oleh manusia.

Danau Mawang yang terletak di Kelurahan Romang Lompoa, Kecamatan Bonto Marannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, adalah salah satu contoh dari upaya konservasi air demi ketersediaan air di masyarakat sekitarnya.

Danau seluas kurang lebih 8 ha, yang berjarak sekitar 7 km dari ibukota Kabupaten Gowa, Sungguminasa, adalah danau yang dibuat oleh Sekolah Penyuluh Pertanian Terpadu (STTP) Gowa puluhan tahun yang lalu, dan menjadi bagian yang terintegrasi dari sekolah penyuluh tersebut. Di sekitar danau ini selain merupakan kawasan pertanian pembelajaran bagi mahasiswa STTP tersebut, juga terbentang puluhan hektar sawah dan kebun masyarakat sekitar.

Keberadaan danau ini sangatlah vital bagi ketersediaan masyarakat sekitar, meskipun kemudian dalam perjalanan waktu, danau ini terkesan tidak terurus dan bahkan mengalami kekeringan yang berdampak luas bagi keberadaan berbagai pertanaman sekitarnya. Pada musim kemarau panjang danau ini bahkan seringkali dilalui oleh mobil truk pengangkut hasil pertanian warga.

Kondisi ini, menurut Ir Azis Hamzah, MP, kemudian menjadi perhatian utama pihak STTP untuk dicarikan solusi yang tepat. Penyebab kekeringan danau pada masa-masa tertentu ini kemudian diketahui karena ketiadaan sumber daya yang secara khusus memperhatikan keberadaan danau tersebut. Danau menjadi tidak terawat selama bertahun-tahun, kebocoran danau di berbagai titik pun diketahui menjadi penyebab sumber utama masalahnya.

Menghadapi kondisi ini, maka pihak STTP kemudian merancang sebuah program kerjasama dengan masyarakat sekitar, yang dinamakan Bina Desa. Salah satu bagian dari program ini adalah melalui kerjasama dengan masyarakat untuk pengelolaan dan pemeliharaan danau. Dari pihak STTP sendiri selain berkontribusi dalam memberikan pembinaan, penyuluhan juga dalam hal suplai benih tanaman-tanaman tertentu yang akan menjadi bagian dari sebuah program konservasi dalam skala besar.

mawang2

Kerjasama pengelolaan Danau Mawang ini dilakukan bersama dengan sebuah komunitas keagamaan bernama An Nadzir. Komunitas yang secara kebetulan memang bermukim di sekitar lokasi danau tersebut. Dan secara kebetulan pula sebagian besar dari anggota komunitas masyarakat ini memang berprofesi sebagai petani.

Penandatangan MoU pengelolaan dan pemeliharaan danau Mawang yang dimulai sejak tahun 2009 ini ternyata merupakan pilihan yang tepat bagi upaya penyelamatan danau Mawang dari bencana kekeringan. Sejak MoU ini ditandatangani, danau ini perlahan tertata dan terkelola dengan baik.

Menurut, Ir Azis Hamzah, MP, salah satu dampak yang terlihat nyata dari keberhasilan pengelolaan dan pemeliharaan danau Mawang ini oleh komunitas jamaah An Nadzir adalah panen padi masyarakat sekitar yang mengalami intensitas hingga 3 kali dalam setahun.

“Kalau dulunya panen mungkin hanya 1-2 kali setahun, kini alhamdulillah sudah bisa sampai 3 kali,” ujar Azis.

Aziz juga mengakui bahwa sejak adanya kerjasama pengelolaan ini, air danau Mawang tak pernah lagi kering di musim kemarau. Selain menjamin ketersediaan air bagi sekolah, juga berdampak pada pengairan pertanian masyarakat sekitar.

Hal ini dibenarkan oleh Ustadz Rakkang, salah satu tokoh dari jamaah An Nadzir yang dipercayakan sebagai penanggungjawab pengelolaan dan pemeliharaan danau ini.

“Keberadaan danau ini sangat penting artinya bagi masyarakat sekitar. Selama ini, hampir 30 tahun danau ini kurang terkelola dengan baik dan terabaikan. Setelah adanya kerjasama ini kondisinya berubah total. Kini tak ada lagi kekeringan bahkan di musim kemarau panjang sekalipun. Coba lihat tanaman sekitar, sangat subur dan panen selalu baik,” jelas Ustad Rakkang, yang juga dipanggil Abah ini.

Ustad Rakkang memberi apresiasi pada pihak STTP dengan mempercayakan pengelolaan dan pemeliharaan tersebut kepada pihaknya serta upaya pembinaan dan penyuluhan yang selama ini dilakukannya.

“Pihak SPTT juga sangat membantu dalam memberikan penyuluhan pengelolaan pertanian yang baik. Salah satu yang diajarkan adalah bagaimana meningkatkan hasil pertanian tanpa menambah area lahan pertanian, yaitu melalui sistem penanaman yang baik, pemupukan dan penggunaan pestisida nabati,” ungkap Ustad Rakkang.

Selain area persawahan, di sekitar area danau ini ditumbuhi aneka macam tanaman hortikultura, buah-buahan dan sayur-sayuran. Antara lain tanaman yang banyak ditemukan adalah rambutan, terong, singkong, bayam dan wortel. Jumlah jenis tanaman sayuran dan buah-buahan ini akan divariasikan di masa mendatang. Selain itu, banyak pula ditemukan pohon mahoni, kelapa dan sawit. Semua tanaman ini dilakukan secara organik atau meniadakan penggunaan bahan-bahan kimiawi.

mawang3

Pengelolaan dan pemeliharaan danau tidak hanya berupa pemanfaatan lahan sekitar untuk pertanian. Danau Mawang ini juga dimanfaatkan untuk tempat budidaya ikan mas, ikan nila dan ikan gabus. Ribuan benih ikan yang disebar tiga tahun lalu kini telah menunjukkan hasil yang sangat besar.

“Hasil budidaya ikan di danau ini kami jual ke pasar dan juga warga sekitar. Ikannya lumayan besar-besar. Pembeli setiap hari datang membeli langsung ke danau ini, ada yang untuk dijual kembali, ada juga untuk kebutuhan sendiri,” ungkap Ustad Rakkang.

Budidaya ikan di danau ini bahkan telah menjadi salah satu sumber penghasilan utama bagi komunitas jamaah An Nadzir. Ikan-ikan ini dijual secara kiloan dengan harga bervariasi. Untuk ikan mas dijual dengan harga Rp 35 ribu/kilo, sedankan untuk ikan nila seharga Rp 20 ribu/kilo.

Usaha lain yang dikelola di kawasan sekitar danau ini adalah peternakan sapi, kambing dan ayam. Ada yang dikelola sendiri oleh STTP atau juga yang dikerjasamakan dengan anggota komunitas jamaah An Nadzir.

Meskipun pengelolaan dan pemeliharaan danau ini dikerjasamakan dengan pihak tertentu namun dalam penggunaan air tidaklah bersifat esklusif.

“Siapa pun warga sekitar diharapkan akan mendapat manfaat dengan keberadaan danau ini. Untuk itulah kami juga membangun kanal-kanal pengairan yang ditujukan pada area persawahan masyarakat sekitar,” ungkap Azis.

Selain pembinaan dan penyuluhan pertanian bagi warga sekitar, pihak STTP juga melakukan berbagai program pembinaan lainnya, seperti pelatihan pengolahan hasil pertanian dan pembinaan lingkungan. Kawasan sekitar danau Mawang ini bahkan telah dijadikan sebagai salah satu kawasan percontohan lingkungan di tingkat kabupaten.

Azis merasa optimis upaya konservasi air ini dapat berlanjut dengan baik di masa mendatang. Baik pihak STTP maupun dari komunitas An Nadzir bahkan berencana untuk menjadikan kawasan ini sebagai kawasan wisata agrikultur. Dengan melihat kondisi danau dan kawasan sekitar yang terawat dan tersusun rapi, serta keberadaan berbagai infrastruktur pendukung yang telah ada sekarang ini, rencana ini sangat realistis dilaksanakan. Apalagi warga komunitas jemaah An Nadzir yang berada di kawasan ini dikenal sangat ramah dan sangat menghargai setiap orang yang datang ke tempat itu.