Keyword 1

Keyword 2

Menanti Pengesahan Perda Masyarakat Adat Enrekang

Komunitas adat Tangsa di Kecamatan Alla Enrekang, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tana Toraja, masih sangat kuat menjalatkan ritual tradisi, termasuk ritual Ma'rara, ritual masuk tongkonan (Foto: Wahyu Chandra)

Komunitas adat Tangsa di Kecamatan Alla Enrekang, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tana Toraja, masih sangat kuat menjalatkan ritual tradisi, termasuk ritual Ma’rara, ritual masuk tongkonan (Foto: Wahyu Chandra)

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kabupaten Enrekang tetap optimis Peraturan Daerah (Perda) tentang pengakuan dan perlindungan masyarakat adat akan disahkan pada akhir tahun ini, sesuai dengan jadwal yang ditetapkan sebelumnya.

“Kemarin kami konsultasikan hal ini ke dewan dan mereka menjanjikan Perda ini tetap prioritas untuk disahkan meski masa kerja Pansus nya telah berakhir,” ungkap Paundanan Embong Bulan, Ketua AMAN Enrekang, Jumat (18/12/2015).

Menurut Paundanan, draft Perda ini sebenarnya sudah selesai beberapa waktu lalu, meski ada beberapa revisi dari pihak akademisi, yang memberikan masukan-masukan untuk penyempurnaan.

“Terakhir memang ada revisi tentang hubungan pasal per pasal yang tidak jelas. Dari akademisi minta itu dibuatkan matriks, jadi hubungan antara pasal 1 dan pasal 3 misalnya bisa jelas dan dapat dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.

Menurutnya, meski telah dijadwalkan untuk pengesahan sebelum akhir tahun, namun AMAN tetap terus mengawal dan mempertanyakan jadwal yang pasti, baik dari Pemda maupun dari dewan.

“Beberapa hari mendatang saya rencana akan datang lagi. Kita terus dorong dan optimis agar Perda ini tetap prioritas untuk pengesahan.”

Sebagai dukungan terhadap Perda ini sendiri, pihak AMAN melalui sebuah tim advokasi yang dibentuk telah melakukan identifikasi komunitas adat yang bisa mendapatkan pengakuan. Hasilnya, dari 48 komunitas yang sebelumnya telah diidentifikasi pemerintah, tersisa 35 komunitas yang dianggap masih eksis dan layak untuk memperoleh pangakuan.

Upaya lain yang dilakukan adalah pembuatan peta wilayah adat. Dari 35 komunitas yang telah teridentifikasi ini sebanyak 3 komunitas yang telah memiliki peta adat, 7 komunitas yang telah berproses, dan 3 komunitas menyusul untuk segera dilakukan lokakarya dan pemetaan. AMAN juga telah melakukan profiling komunitas di 8 komunitas.

“Sisanya masih terus kita upayakan pendokumentasiannya. Tiap hari tim kami jalan ke lapangan untuk mengumpulkan informasi.”

Dalam pelaksanaan pemetaan dan pendokumentasian ini, diakui Paundanan, pihaknya kerap menghadapi kendala-kendala, sehingga tidak bias dilakukan secara cepat. Salah satunya pada kesiapan warga komunitas itu sendiri.

“Menemukan waktu yang tepat itu memang kadang sangat sulit, karena umumnya di komunitas-komunitas itu banyak kegiatan-kegiatan. Belum lagi karena kesibukan di sawah dan kebun. Jadi bukan kita yang menentukan waktu, tapi dari kesiapan masyarakat itu sendiri.” (Wahyu)

,