Ekosistem Karst Sulsel Makin Terancam

TN-babul1

Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul) di Kabupaten Maros dan Pangkeje Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan (Sulsel), salah satu kawasan karst terbesar di dunia. Sayangnya, kawasan ini mengalami degradasi parah dengan makin banyak pembukaan tambang. Ekosistem kawasan inipun terancam.

Jumaedi, aktivis lingkungan dari Lingkar Intelektual Muda Simbang (LIMS), kepada Mongabay mengatakan,  di kawasan ini, sudah ada dua pabrik semen besar di Sulsel, yaitu Semen Bosowa dan Tonasa.

Dalam waktu dekat, katanya, ada rencana investasi pembangunan semen baru di kawasan yang terkenal sebagai endemik kupu-kupu ini. Padahal, katanya, masalah yang ditimbulkan dua pabrik semen yang ada, belum selesai malah muncul masalah baru. “Ini rencana pabrik semen baru. Investornya PT Conch dari China dengan nilai investasi Rp5 triliun. Mereka sudah kajian kelayakan dan mematok lokasi,” katanya di Makassar, pertengahan November 2013.

Pabrik semen ini akan dibangun di Kecamatan Simbang dan Tompobulu. Luasan sekitar 500 hektar, 300 hektar dari hutan produksi, sisanya lahan warga. Jumaedi khawatir kerusakan lingkungan di daerah itu makin parah, termasuk keberlangsungan kawasan karst.“Dari pabrik semen Bosowa dampak sudah terasa berupa polusi udara, kondisi jalan rusak akibat endapan debu semen di kala musim hujan. Belum lagi ketersediaan air makin berkurang.”

Dia memperkirakan, penggunaan air dari Bosowa dan Tonasa bisa mencapai 12 persen dari total air di kawasan itu. Jika pabrik dari China dibangun, jumlah ini bertambah dua atau malah tiga  kali lipat. “Saya mendapat informasi data, pabrik semen ini memiliki kapasitas cukup besar dan termasuk perusahaan terbesar di dunia. Produksi diperkirakan mencapai setengah dari produksi semen nasional. Bisa dibayangkan dampak yang akan ditimbulkan terhadap hutan dan karts serta ketersedian air.”

Krisis air kini menjadi masalah tersendiri bagi warga Simbang sekitar. Kawasan yang dulu tak pernah kering ini, kini mulai mengalami krisis air saat kemarau yang berdampak pada pertanian warga. “Jika dulu petani bisa panen hingga dua bahkan tiga kali, kini hanya bisa sekali setahun. Hanya musim hujan.”

Penyebab debit air tanah berkurang diduga penggunaan perusahaan dan tambang yang makin massif. Masalah lain, satwa endemik di kawasan  itu juga terancam hilang. Kawasan ini dikenal sebagai endemik monyet putih, berbagi jenis burung dan kupu-kupu Raja, kupu-kupu langka icon Bantimurung. “Bisa diperkirakan dampak besar bakal timbul bagi berbagai satwa ini jika proyek ini dilanjutkan,” ujar dia.

Belum lagi, dua perusahaan inipun berencana memperbesar produksi. PT Semen Tonasa dan PT Semen Bosowa juga berencana meningkatkan produksi mereka. Informasi yang diperoleh, menyebutkan, PT Bosowa akan meningkatkan produksi pada 2014 dari 1,8 juta ton menjadi 3 juta ton pertahun, melalui pembangunan pabrik baru yang sedang berjalan. PT Tonasa di tahun sama akan meningkatkan produksi dari 4,7 juta ton menjadi 6,7 juta pertahun.

Apalagi, eksploitasi karst di kawasan TN Babul tak hanya untuk semen. Aktivitas tambang lain mulai marak seperti marmer. Sejumlah tambang marmer milik masyarakat mulai bermunculan, termasuk rencana masuk perusahaan nasional. Ancaman lain, aktivitas pengambilan bahan material untuk bahan bangunan dan  pembuatan jalan.

Data dari Dinas Pertambangan dan Energi, terdapat 25 unit usaha yang beraktivitas di dua daerah, masing-masing 16 unit di Kabupaten Pangkep dan sembilan di Kabupaten Maros. Belum termasuk tambang-tambang tak berizin.

PT Semen Bosowa yang dikonfirmasi membantah jika pabrik mereka di Maros selama ini mengganggu suplai air di kawasan itu. Bahkan Bosowa saat ini memiliki dua danau kecil, tempat penampungan air sisa olahan pabrik, juga konsumsi karyawan dan warga sekitar. “Airnya sisa buangan pabrik yang disaring terlebih dahulu hingga bisa langsung diminum tanpa dimasak,”   kata Nur Alang, Manajer Umum PT Semen Bosowa.

Nur mengatakan, sejak awal, pabrik Bosowa sudah menunjukkan komitmen ramah lingkungan. “Kami termasuk salah satu pabrik semen paling ramah lingkungan di Asia. Bahkan kini sudah punya ISO lingkungan.”

TN-Babul2Begitu pun dengan pasca produksi, upaya-upaya reklamasi telah dilakukan melalui penanaman pohon dan reklamasi lokasi galian tambang untuk pembuatan dua danau sebagai tempat penampungan air. “Mungkin saat ini air danau itu belum bisa untuk pertanian karena volume masih kecil, tapi ada rencana ke depan untuk itu,” katanya.

Mengenai polusi debu, kata Nur, sebenarnya dari awal sudah tak menjadi masalah. Bosowa memiliki parameter tingkat pencemaran udara, sebagai prasyarat ISO. Salah satu indikator polusi udara adalah membiakkan rusa di sekitar pabrik. “Ini menjadi alat kontrol tingkatan polusi udara dari pabrik.”

Terkait rencana peningkatan produksi semen menjadi 4 juta ton tahun 2014, dilakukan tanpa ada pembebasan lahan, namun tetap menggunakan konsesi sebelumnya. “Kita membangun pabrik kedua, tapi tetap pada kawasan sama. Jadi tidak ada pembebasan lahan sama sekali.”

Rencana eksploitasi karst untuk industri semen di Sulsel mendapatkan sorotan dari Amran Achmad, pakar karst dari Universitas Hasanuddin, Makassar. Profesor yang kerab meneliti karst ini belum mendapatkan informasi lengkap mengenai rencana pembangunan pabrik semen itu, tetapi jika tetap direalisasikan dia berharap ada pertimbangan matang demi keberlangsungan ekologis kawasan ini.

Pertimbangan ekologis yang harus diperhatikan, apakah lokasi tidak berada dalam kawasan hutan, khusus kawasan lindung dan harus jauh dari titik air. Sedangkan pertimbangan sosial, harus ada persetujuan dari seluruh warga di sekitar lokasi pembangunan.

Menurut Amran, eksploitasi karst selama ini sebenarnya menimbulkan dampak serius, dan mengancam keberlangsungan ekosistem. Dia mengatakan, ada dua ekosistem terancam dengan aktivitas penambangan kars ini, yaitu ekosistem hutan di bagian atas (eksokars) dan gua di bagian bawah (endokars).

TN-Babul3

Sejumlah dampak yang ditimbulkan dari perusakan ini, antara lain penghancuran keragaman hayati serempak, baik pada ekosistem permukaan maupun gua. “Ini akibat peledakan, pemotongan dan pembongkaran habitat bukit kapur.”

Dampak lain, perusakan gua yang menjadi habitat burung dan serangga, perusakan sistem air pada dasar gua atau danau dalam tubuh batuan karst. Kondisi ini menghancurkan keanekragaman hayati ekosistem gua, dan mengganggu kehidupan flora dan fauna di luar gua, yang selama ini tergantung dari sumber air dari gua kars. “Tidak hanya itu, limbah dari pemotongan marmer kepada biota sungai kecil di sekitar pabrik marmer. Ini akan mempengaruhi pakan burung pemakan ikan.”

Amran menyarankan, perlu moratorium pertambangan dan penetapan areal karst potensial untuk perlindungan.“Perlindungan karst potensial untuk perlindungan tata air, gua, dan keragamanhayati karst. Tidak cukup hanya kawasan konservasi, juga hutan lain, dan bahkan di luar hutan.”

Dia menyarankan, segera ada regulasi pengelolaan karts di luar kawasan konservasi. “Kalau tambang sudah berdiri baru UU lahir, sulit bagi kita untuk melakukan apa-apa,” katanya.

TN Babul diresmikan menjadi kawasan konservasi atau taman nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.398/Menhut-II/2004 tanggal 18 Oktober 2004 ini memiliki luas ± 43.750 hektar.

Selain kaya karst, keragamanhayati unik, kawasan ini bisa ditemukan gua alam dan gua sejarah. Salah satu yang terkenal terdapat di kawasan Leang-leang, Kabupaten Maros, dimana ditemukan sejumlah jejak pra sejarah di lokasi ini.

 Tulisan ini telah diterbitkan di Mongabay Indonesia

,